Dari Sungai Kuantan ke Panggung Dunia, Pulang Membawa Harapan Sekolah Seni

Foto: Epi Martison (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Denting gendang oguang, riuh jalur di tepian Sungai Kuantan, dan bunyi alam di kampung halaman. Dari sanalah perjalanan Epi Martison dimulai. Kini, namanya melambung sebagai seniman musik tradisional, komposer, dan koreografer Indonesia yang dikenal di panggung internasional.

Ia tampil di Opera House Sydney, Jacob’s Pillow Dance Theater (USA), hingga festival di Paris dan London. Ia juga memimpin delegasi seni Indonesia ke berbagai negara, mempersembahkan karya yang memadukan tradisi dengan instrumen lokal dan suara alam.

Namun, di balik gemerlap panggung dunia, Epi selalu menyimpan rindu pada tanah kelahirannya: Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.

“Saya ini lahir dari tradisi Kuansing. Irama jalur, bunyi alam, sampai musik rakyat, itu semua yang membentuk saya. Apa pun yang saya capai di luar negeri, akar saya tetap di sini,” ucapnya penuh emosi. Jumat malam (22/08/2025) di Teluk Kuantan.

 

Prestasi yang Mendunia

Jejak prestasi Epi panjang. Ia mengantongi medali emas World Choir Olympics di Austria, Denmark, Jerman, dan Belanda. Ia menggarap tari kolosal pembukaan Porprov X Riau dengan 500 pelajar, hingga melahirkan koreografi “Ritus Tergerus Rakus” yang mengkritik perambahan hutan di Kuansing.

“Bagi saya, seni itu bukan sekadar hiburan. Ia adalah bahasa untuk menyampaikan pesan, termasuk tentang alam dan kehidupan,” jelasnya.

 

Harapan Pulang: Sekolah Seni di Kuansing

Meski telah melanglang buana, Epi punya cita-cita sederhana: berdirinya sekolah seni di Kuansing. Baginya, sekolah seni akan menjadi benteng pelestarian budaya sekaligus wadah generasi muda untuk mengasah bakat.

“Kuansing ini gudang talenta. Anak-anak kita punya bakat luar biasa, tapi mereka kekurangan wadah. Kalau ada sekolah seni, mereka tak perlu jauh merantau hanya untuk belajar,” tutur Epi.

Ia bahkan sudah terlibat dalam inisiatif pendirian SMK Seni dan Budaya Kuansing, yang jika terwujud, akan menjadi yang pertama di Riau.

“Saya ingin anak-anak Kuansing melampaui saya. Mereka jangan hanya jadi penonton, tapi pelaku utama yang membawa seni Kuansing ke panggung dunia,” tegasnya.

 

Dari Kuansing untuk Dunia

Bagi Epi Martison, seni adalah jati diri sekaligus diplomasi budaya. Ia yakin, jika sekolah seni benar-benar lahir di Kuansing, maka dari tepian Sungai Kuantan akan lahir generasi baru seniman yang menebar harum nama daerah di panggung global.

“Kuansing ini rumah saya. Kalau seni kita kuat, maka Kuansing juga akan semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia,” pungkasnya.*(ald)
 






Tulis Komentar